Dua Jam bersama Ketua Poktan "Medaljaya" Karangtengah

PDFCetakEmail

headline - headline

H. Rahmat (kedua dari kanan), mengangkat tropi buah prestasinya selama ini. (ilustrasi admin)

Bila orang lain kesulitan mencari pangsa pasar, justru H. Rahmat kewalahan menerima pesanan konsumen.  Demikian diungkapkan Ketua Kelompok Tani Ternak Itik "Medaljaya" Kampung Surupan Desa Sukasarana, Kecamatan Karangtengah Kabupaten Cianjur yang ditemui oleh dua mahasiswa PBSI S2 UNSUR Cianjur, Dadan  dan M. Akrom dan didampingi oleh Dr. Hj. Siti Maryam, M.Pd Selasa (24/42012).

Kelompok Tani Ternak Itik "Medaljaya" terletak sekitar 1 km dari Pemerintahan Desa, atau 4 km dari kantor kecamatan Karangtengah Cianjur ini mampu memberdayakan masyarakat sekitar di bidang usaha pembibitan (breeding) itik.  Kegiatan dari hulu ke hilir dapat dijumpai di lokasi peternakan (farm) ini, seperti : "neteskeun atau megarkeun"  anak itik umur sehari (biasa disebut DOD atau day old duck), mencampur pakan, pembesaran itik pedaging, membuat mesin tetas tradisional hingga pemeliharaan itik dewasa menghasilkan telur.

Menurut Pak Haji, sapaan akrab H. Rahmat, keterampilan dan habituasi usaha itik ini diperoleh dari ayahnya. Dulu ayahnya hanya sebatas petani itik.  Sentuhan tangan dingin Pak Haji dengan mengalihkan dari sistem "diangon di sawah" (ekstensif) kepada sistem dikandangkan (secara intensif) telah mengubah Pak haji menjadi seorang "enterpreuneur".

Pemeliharaan itik secara intensif memiliki beberapa kelebihan, yakni produktivitas telur lebih tinggi, kesehatan lebih terjamin, tidak tergantung cuaca atau musim panenan dan biaya lebih efesien.  Hal ini selaras dengan teori energi bahwa energi itik tidak banyak dikeluarkan untuk "jalan-jalan" pada itik digembalakan, tapi secara efesien dikonversi ke dalam produksi telur. Dengan cara intensif, produksi telur bisa mencapai 200-250 butir/ekor/tahun. Ini berbeda dengan cara digembalakan, seekor induk hanya mampu berproduksi sekitar 130 telur/ekor/tahun.

Ketika diminta dinas terkait untuk meningkatkan  harga  telur diproduksinya, Pak Haji pun mampu menjawab tantangan tsb.   Di pasar tradisional, harga telur konsumsi seharga Rp. 1.400,00 sebutir. Tapi Pak Haji bisa menjual telur yang sama seharga Rp. 1.600.00.  Rahasianya sederhana,  meskipun secara kasatmata telur identik, namun telur dijual Pak Haji merupakan telur tetas  (baca: ada bakal embrionya) untuk ditetaskan.  Bila peternak biasa menggunakan sex-ratio (perbandingan  betina dan jantan) 100 : 1, maka Pak haji "rela penambah penumpang makan gratis" dengan  menambah jumlah pejantan, sehingga sex-ratio-nya menjadi  1 jantan : 8 betina.  Ini untuk memaksimalkan fertilisasi (pembuahan) di kalangan induk dan keberhasilan proses penetasan (hatchery).   Harga telur pun terkatrol.

Usaha Pak Haji ini dimulai tahun 1970, mulanya sebatas sampingan. Tahun 1980, menunjukkan permintaan cukup pesat. Tanggal 17 Juli 2003, Pak haji membentuk kelompok tani dan tanggal 3 Juni 2005 dikukuhkan sebagai "Kelas Pemula" dengan SK Kades Sekasarana No. 19/PGM/VI/60/05.  Setahun kemudian dinaikkan menjadi "Kelas Lanjut" tahun 2006 dan 2007 menjadi "Kelas Madya".

Kelompok Tani Ternak Itik "Medaljaya" meraih beberapa penghargaan, di antaranya: Juara III Kelompok/Pelaku Usaha Berprestasi dan peningkatan Kelas kemampuan Poktan Tingkat Kabupaten 2008  dan Penghargaan sebagai Perintis Lingkungan oleh Bupati Cianjur, Drs. Harkat Handiamihardja  melalui SK Bupati No. 0026/Kep156-LH/2000 tahun 2000.

Bila dulu Pak Haji harus bersusah payah memasarkan anak itik [DOD]  hingga Sukabumi, Cirebon, atau Kroya, kini para pembeli secara bergiliran datang langsung ke lokasi.  Beberapa konsumen harus pulang gigit jari karena kehabisan stok.  Bahkan pesanan 1000 ekor perminggu tak bisa dilayani.

 

Pak Haji antusias bertutur seputar usaha pembibitan itik (ilustrasi admin)

Rencana Penelitian

Kelompok Tani "Medaljaya" sering dijadikan lokasi penelitian atau kunjungan lapangan.  Sejumlah mahasiswa, dosen maupun peneliti, termasuk kunjungan dinas terkait penasaran dengan rahasia beternak Pak Haji. Beberapa mahasiswa peternakan atau penyuluh sengaja mengunjungi Pak Haji berasal dari Bogor, Bandung, Jakarta bahkan luar Jawa.  Hal itu tak disangka oleh Pak Haji, ternak itiknya ternyata membawa berkah.

Tim Peneliti Mahasiswa PBSI S2 Universitas Suryakancana, terdiri: Yaneu Sulistiawati, Erna Rostina, Tati Mulyati, dan Dadan serta M. Akrom sebagai tenaga bantuan teknis. Meskipun memiliki dimensi berbeda,  usaha itik memiliki relevansi sebagai aspek mata pencarian dari unsur budaya dan peristiwa tuturan dari seorang tokoh kelompok tani dapat dijadikan obyek penelitian bahasa.

Program penelitian ini berada di bawah Koordinator Prof. Dr. Iskandarwassid, M.Pd dengan anggota tim : Dr. Hj. Siti Maryam, M.Pd dan Dr. Hj. Iis Ristiani, M.Pd serta Pengarah : Prof. Dr. H. Yus Rusyana.  Sejumlah data  berupa penggunaan bahasa, pandangan hidup, aspirasi serta implementasinya dapat dijadikan sebagai pemberdayaan masyarakat ke depan. [dewa]

 

"