Studi Lapangan Sastra dan Budaya Nusantara Kampung Naga & Situs Karangkamulyan

PDFCetakEmail

headline - headline

Peserta  Studi Lapangan 2012  Kampung Naga  dan situs Karangkamulyan  berpose sejenak

(ilustrasi admin)

STUDI LAPANGAN merupakan kegiatan wajib  dilakukan untuk mata kuliah Sosiolinguistik dan Sastra dan Budaya Nusantara di bawah asuhan dosen, Prof. Dr. H. Yus Rusyana. Manfaatnya untuk menerapkan sejumlah teori diperoleh di bangku kuliah  dan mengamati secara langsung dengan kondisi di lapangan.

 

Sebelumnya, semester dua melakukan   Studi Lapangan Sastra  dan Budaya Nusantara Semester 2 ke desa Karyamukti, Kec. Campaka Kabupaten Cianjur (baca juga: Feature Situs Gunung Padang dan Kilau Emas di Karyamukti).  Sementara  mahasiswa semester satu  di bawah Koordinator Angkatan, Drs. Aan Suwandi berjumlah   26 mahasiswa melakukan studi lapangan  ke Kampung Naga di Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya dan Kompleks Situs Karangkamulyan di desa  Karangkamulyan Kec. Cijeungjing Kabupaten  Ciamis.  Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Rabu-Kamis, 4-5 Januari 2012. Rombongan menggunakan satu bus besar dan  didampingi oleh Sekretaris Program PBSI S2, Dr. Hj. Siti Maryam, M.Pd dan dosen pengampu, Dr. H. Yayat Sudaryat, M.Hum.

Pada hari pertama (Rabu, 4/1), obyek penelitian dituju adalah situs Karangkamulyan di Ciamis.  Menurut pengelola situs, Syarifin Hidayat (48) dan Agus Abdul Haris (35), petugas Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Serang Banten, jumlah pengunjung pada hari biasa rata-rata 50 s.d. 100 orang, pada hari Minggu mencapai 400 orang perhari.  Bahkan pada hari libur, jumlahnya bisa mencapai 2.000 orang.

Situs ini terletak di jalan raya Ciamis-Banjar sekitar 17 km arah timur Ciamis, berada di antara pertemuan dua sungai Citanduy dan Cimuntur.  Awalnya luas areal bekas Kerajaan Galuh itu 45 ha, tetapi kemudian menyusut hingga 25 ha.

Beberapa peninggalan seperti Sanghyang Bedil berupa ruangan dikelilingi batu punden berundak ukuran 6,20 x 6 m.  Menurut kepercayaan masyarakat setempat, tempat ini dijadikan pertanda akan datangnya suatu kejadian, terutama apabila terdapat bunyi letusan.

Tempat lainnya, tempat penyabungan ayam, merupakan sebuah ruangan terbuka berbentuk bundar yang dikelilingi pohon tinggi, Konon di tempat itu dulunya Ciung wanara menyabung ayam dengan Raja Galuh yang jahat, Raja Bondan.

Kemudian tempat lambang peribadatan berupa batu menunjukkan peribadatan berupa batu yang menunjukkan lapisan budaya megalitik dan budaya Hindu. Tempat lainnya disebut Pelinggih (pangcalikan) berupa sebuah batu bertingkat berbentuk segi empat. Ceritanya, batu ini merupakan singgasana Raja Galuh. Kemudian batu panyandaan berupa himpunan batu kali, konon di sinilah Ciungwanara (Raja Pajajaran pertama) dilahirkan oleh Dewi Naganingrum.  Selama 40 hari setelah melahirkan, Dewi Naganingrum bersandar (nyanda) di tempat ini untuk memulihkan kesehatannya.

Kampung Naga

Hari kedua, penelitian dilanjutkan ke Kampung Naga di desa Neglasari, kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya.  Kampung ini terletak di sebuah lembah dan untuk menempuhnya harus menuruni sekitar 447 sengkedan sepanjang 500 meter. Rombongan diterima Lebe Adat Ateng Jaelani (58) didampingi Ayo Sunaryo (56), Iin dan Tatang Sutisna dari Himpunan Pramuwisata Kampung Naga.

Semua rumah tinggal di sini, atapnya menggunakan ijuk, dindingnya dari bilik bambu, lantainya panggung dan penerangannya menggunakan lampu cempor.  Warga yang tinggal di Kampung Naga hanya 108 KK (308 jiwa) atau hanya 5% dari jumlah populasi di mana 95% tinggal di luar Kampung Naga.

Warga Kampung Naga masih kuat mempertahankan adat diwariskan leluhurnya, misalnya tidak menerima pemakaian listrik untuk penerangan atau gas untuk memasak.  Di sini terdapat dua lembaga formal yaitu Ketua RT dan Kepala Dusun, kemudian lembaga adat dipimpin oleh kuncen dibantu oleh Lebe Adat untuk memimpin upacara adat.

Soal agama, warga Kampung Naga memeluk agama Islam dan melaksanakan salat lima waktu seperti muslim lainnya. Tidak benar kata Ateng Jaelani, kalau ada yang mengatakan bahwa warga Kampung Naga salat wajib seminggu sekali pada hari Jum'at saja.

Upacara adat di Kampung Naga disebut Hajat sasih yakni berupa peringatan hari besar islam (PHBI), seperti: peringatan tahun baru 1 Muharam, Maulid Nabi, Rewah, idul Fitri, Idul Adha, dan lain-lain.  Di Kampung Naga ada hari dan bulan pantangan menceritakan sejarah, asal usul nnek moyang mereka dan masalah adat atau hal-hal yang tabu yaitu hari Selasa, Rabu dan Sabtu, Sedangkan bulan pantangan adalah bulan Safar.

Selama 4 jam, para mahasiswa PBSI S2 semester 1 mengadakan studilapangan di sini, mereka dibagi 4 kelompok dipandu 4 pemandu.  Tepat pukul 14.00, rombongan meninggalkan Kampung Naga. *** [diringkas dari tulisan Lily Azies Saleh/ISMA]