285 PESERTA IKUTI SEMINAR INTERNASIONAL IV DI UNSUR CIANJUR

PDFCetakEmail

Aktivitas Kampus - Semiloka

 

FOTO BERSAMA. Narasumber berpoto bersama dengan Rektor, unsur pimpinan  dan  dosen  [Foto-foto: Rudi SY/Pubdok SI-IV]

SEMINAR internasional keempat yang digelar di Gedung Serbaguna FKIP Universitas Suryakancana Cianjur (6/10) berlangsung sukses. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian  kegiatan Wisuda Sarjana/Magister yang akan dihelat Rabu, 10/10 nanti.  Mayoritas peserta cukup antusias mengikuti kegiatan hingga detik terakhir penutupan. Beberapa penanya akhirnya harus menunda pertanyaannya akibat waktu telah melebihi yang telah ditetapkan.

Awalnya, Panitia hanya membatasi jumlah peserta maksimal 250 peserta. Namun, peserta  banyak yang  daftar mendadak sehingga angka 250 pun cepat terlampaui.  Beruntung, Panitia menyediakan stok cadangan seminarkid, konsumsi, kursi dan sertifikat sebagai antisipasi peserta dadakan ini dan semua peserta  dapat terlayani dengan baik.

ANTUSIAS. Peserta Seminar Internasional  IV berkonsentrasi mengikuti materi dibawakan penyaji [pubdok]

Publikasi online dan undangan serta selebaran pamflet, sejumlah peserta bukan hanya civitas akademika UNSUR saja, melainkan diikuti oleh mahasiswa dari daerah lain seperti: UPI Bandung, Unpas maupun guru-guru di kabupaten Bandung Barat, Cianjur dan Sukabumi.

Jumlah ini tetap bertahan sejak dibuka oleh Rektor UNSUR pada pukul 08.30 hingga berakhirnya acara pukul 15.30 WIB. Seminar Internasional IV mengambil tema "Membangun Bangsa Melalui Budaya Tatar Sunda" dengan menghadirkan Frances Bowden Affandy (Direktur Eksekutif Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Heritage) yang menyajikan materi : Kepentingan Budaya. Sementara Penyaji kedua, Prof. Dr. H. Yus Rusyana membawakan materi "Tuturan tentang Penca dalam Tradisi Lisan Sunda".

minat merawat budaya

Begitu tiba di lokasi, peserta disuguhi mamaos Cianjuran di bawah Koordinator, Drs. H. Djuherman, M.Pd sebagai ciri khas kesenian daerah Cianjur. Begitupula tayangan silde seminar internasional sejak penyelenggaraan pertama hingga persiapan semiloka keempat dapat dinikmati sejumlah peserta sambil menanti acara dibuka.

Acara dipandu oleh MC, Banan Sarkosih, S.Pd, M.Pd didahului  pembacaan ayat suci Al-Qur;an dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dipimpin oleh Drs. H. Djuherman, M.Pd.   Laporan Panitia dibawakan Ketua Panitia, Drs. H. Iyep Candra Hermawan, M.Pd menyatakan bahwa baik Prodi PBSI S-2 maupun FKIP UNSUR  merupakan lembaga yang memiliki minat pada persoalan-persoalan yang terkait dengan kebudayaan, terutama keanekargaman budaya, dan perubahan sosial, baik dalam bentuk pendidikan, kajian/penelitian, maupun aksi. Berdasarkan hal tersebut telah diimplementasikan ke dalam bentuk seminar internasional.

 

Khidmat menyanyikan lagu Kebangsaan  Indonesia Raya [pubdok]

Prodi PBSI Pascasarjana dan FKIP UNSUR telah mengadakan Seminar internasional yang keempat kalinya berkesinambungan. Pada seminar internasional I dibahas berkenaan dengan Budaya Nusantara sebagai Basis Pendidikan. Pembicara utama yakni Otsuka Hiroko (Jepang) dan Juma Abdu Wamaungo (Uganda). Hasil seminar ini berhasil dibuat prosiding. Seminar internasional II dikaji tentang Nilai Budaya sebagai Basis Pendidikan Karakter. Pembicara utama yakni David Reeve (Australia) dan Henry Chambert Loir (Perancis), hasil seminar ini pun berhasil dibuat prosidingnya. Seminar internasional III mengetengahkan  Usaha Pembinaan Identitas Budaya Sunda dalam Perkembangan Buku Pelajaran Bahasa Sunda dengan narasumber Mikihiro Moriyama (Jepang).

Pada seminar internasional IV ini akan dikaji berkenaan dengan persoalan-persoalan kebudayaan yang relevan dengan tuntutan zaman dan pemberian arah pada perubahan sosial, terutama dengan membangun bangsa Indonesia.  Ketua Panitia yang juga Dekan FKIP UNSUR ini mengutip pernyataan Wamendiknas bahwa Indonesia perlu membangun pusat kebudayaan di berbagai negara.  Rumah budaya tersebut sangat strategis dalam memperkenalkan budaya  bangsa  sekaligus sebagai rujukan  informasi tentang budaya di tanah air.   Oleh karena itu seminar mengenai kebudayaan diadakan di UNSUR ini memiliki dimensi strategis.

pusat budaya kesundaan

Sementara Rektor UNSUR Cianjur, Prof. Dr. H. Dwidja Prijatno, S.H, M.H, Sp.N. dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Wakil Rektor, Para Dekan, Narasumber, Panitia, Undangan dan mengapresiasi penyelenggaraan Seminar internasional ini.  "Saya cukup bangga, Prodi PBSI S2 dan FKIP bisa menyelenggarakan seminar internasional secara berkesinambungan sejak pertama hingga sekarang ini mengusung tema kelokalan, sebagai salah satu kekuatan bagi UNSUR, ke depan diharapkan dapat menjadi pusat budaya kesundaan," ungkap Rektor.

MERAWAT BUDAYA. Mamaos Cianjuran selalu ditampilkan dalam setiap kegiatan formal seperti seminar internasional IV ini. [pubdok]

Rektor pun berharap selain mengembangkan seni dan budaya Sunda di lingkungan kampus dan masyarakat Cianjur, dapat memperkenalkan budaya kesundaan ini  melalui muhibah ke mancanegara. Begitupula hasil seminar ini dapat dikumpulkan lalu dibuat prosiding sehingga memberi manfaat lebih luas.

"Apa yang dilakukan saya menyambut gembira. Hasil seminar dapat dibuat prosiding sebagai acuan bagi peneliti yang akan meneliti lebih lanjut," tambahnya.

Diungkapkan pula, kegiatan seminar bahasa dan budaya ini sebagai bentuk implementasi dalam memelihara dan mengembangkan budaya lokal serta dapat menjadi tolok ukur keilmuan yang sejalan dengan Tridharma Perguruan Tinggi.  Apresiasi kegiatan seminar ini juga diberikan  kalangan masyarakat. Pada kesempatan ini Rektor membuka kegiatan seminar secara resmi dengan mengucapkan basmalah bersama.

Sementara, Direktur Pascasarjana UNSUR, Prof. Dr. Iskandarwassid, M.Pd, mengungkapkan bahwa dirinya meskipun tinggal di Bandung, tetapi telah memiliki kelekatan emosional lebih mendalam sebagai warga Cianjur. Dalam dua tahun terakhir ini beliau dan lembaga pascasarjana tengah menggarap 6 penelitian berkaitan dengan seni, budaya maupun tokoh-tokoh terkait ketiga aspek tersebut.  Rencananya akan segera dibuat kompilasi sehingga menjadi referensi bagi peminat  seni dan budaya Cianjur.  Tim ini  dinamis dengan setiap temuan-temuan baru.  Semua kegiatan ini dilakukan untuk menghidupkan budaya lokal, yakni budaya Sunda.

FOTO: ATAS Prof. Dr. Iskandarwassid, M.Pd (Direktur Pascasarjana UNSUR) merasa sangat dekat dengan masyarakat Cianjur (pubdok)

Pemberian materi diberikan dalam dua sesi waktu, yakni pertama materi Kepentingan Budaya oleh narasumber Frances  Bowden Affandy dan setelah istirahat, salat, dan makan dilanjutkan sesi kedua dengan narasumber, Prof. Dr. H. Yus Rusyana.  Pembagian sertifikat bagi peserta langsung diberikan begitu acara usai.  Mengenai  jalannya seminar akan dibahas dalam topik tersendiri. [klik Jalannya Seminar]  [admin/PBSI S2]

 

Baca Artikel Terkait:

Kepentingan Budaya dan Tuturan tentang Penca dalam Tradisi Lisan Sunda