Kepentingan Budaya dan Tuturan tentang Penca dalam Tradisi Lisan Sunda

PDFCetakEmail

Aktivitas Kampus - Semiloka

Narasumber Seminar internasional IV, Mrs. Frances B. Affandy dengan pimpinan Prodi PBSI S2 UNSUR di ruang dosen PBSI S2 UNSUR (Foto-foto: Rudy SY/Pubdok]

Saat dalam perjalanan di sebuah kereta api di kota Budapest, Hongaria, Mrs. Frances Bowden Affandy mendengar sayup-sayup percakapan yang membangkitkan rasa kepenasaran dirinya untuk mencari sumber suara. Seolah dalam mimpi, percakapan dituturkan dalam satu bahasa yang khas terngiang di telinganya, yaitu tuturan bahasa Sunda.  Hal ini mendorongnya untuk mendekatii satu keluarga sedang asyik melakukan percakapan yang seolah tidak mempedulikan berada di mana saat itu.  Mrs. Frances memberanikan diri menyapa:  punten....Ternyata dijawab dengan "someah darehdeh" dan langsung mempersilakannya duduk di sampingnya. Surprised!! Setelah ditelusuri, ternyata  mereka adalah keluarga asal Sunda yang tengah berlibur di negeri Eropa Timur tsb.  Komunikasi pun akhirnya terjalin dengan hangat.

Kenangan di atas diungkapkan oleh Mrs. Frances di hadapan peserta Seminar Internasional IV yang diadakan Prodi PBSI S2 dan FKIP UNSUR Cianjur.  Mrs. Frances sebagai pembicara sesi pertama membawakan materi cukup enerjik dan penuh semangat. Begitupun sebaliknya, respon peserta tampak konsentrasi menyimak materi.  Saat menjelaskan What's identity dalam  presentasi materi "Kepentingan Budaya"  diterangkan bahwa budaya merupakan identitas dan kekayaan suatu bangsa.  Budaya Sunda  dikenal santun, salah satunya "akuan" mudah dan senang hati "someah" menerima tamu seperti dikisahkan di atas.  Kultur ini berbeda dengan suku lain ataupun bangsa lain yang tidak mudah melibatkan orang baru dalam suatu peristiwa tuturan.

Mrs. Frances menjelaskan, di kalangan suku Sunda, ada suka menyebut Sunda wiwitan, Sunda pesisir juga Sunda Priangan.  Where's Sunda? Narasumber pun memetakan suku Sunda sering identik dengan provinsi Jawa Barat. Secara geografis, suku Sunda mendiami provinsi Banten, Jawa Barat, dan wilayah perbatasan dengan DKI dan Jawa Tengah.  Budaya Sunda amat dikenali dengan  kesantunannya,  kostum, tarian, musik, dan masakannya.

Disela mempresentasikan materinya, narasumber memuji tim kesenian Cianjuran yang dipimpin oleh Drs. H. Djuherman, M.Pd yang mengiringi acara pembukaan seminar IV ini sebagai bukti nyata budaya lokal tetap terpelihara. Mamaos Cianjuran merupakan kekayaan budaya Sunda yang dikenal bukan hanya di tingkat lokal, tetapi  nasional dan  mancanegara.

Lebih lanjut, Mrs. Frances B. Affandy memaparkan bahwa  kekayaan budaya di tatar Sunda, seperti  situs arkeologi atau   kawasan dan bangunan bersejarah harus dipelihara. Konsep pembangunan dan tata ruang kota, tidak merusak daerah cagar budaya.  Dalam slide dicontohkan bangunan di kota Paris tetap dijaga sebagai cagar budaya, sehingga bangunan-bangunan baru menjulang tinggi hanya boleh didirikan di luar kawasan tsb.

POTO : Mrs. Frances B. Affandy, penuh semangat

Kota Bandung di tatar Sunda memiliki sejumlah cagar budaya.  Menurut Perda Kota Bandung No. 19/2009 tentang Kawasan Cagar Budaya Bandung meliputi: Kawasan Pusat Kota Bersejarah, Kawasan Pecinan, Kawasan Militer, Kawasan Etnik Sunda, Kawasan Perumahan Villa dan Kawasan Industri,  Bandung kaya akan bangunan peninggalan di masa kolonial. Mrs. Frances amat konsens terhadap upaya ini dilihat dari keaktivannya di lembaga Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Heritage).  Sementara keberadaan monumen, museum dan situs dapat dijadikan ajang nostalgia  (memori bersama), penelitian, pendidikan, kebanggaan, hiburan dan mengundang turis sehinga memberi keuntungan bagi pemerintah setempat.

Aktivis bergiat di bidang penyelamatan cagar budaya  ini  mengharapkan di Cianjur berdiri museum representatif yang bukan saja mampu mengoleksi benda-benda purbakala, tapi menjadi pusat budaya kesundaan berkaitan dengan tradisi, bahasa, budaya dan seni Sunda bisa diakses publik luas. Hal ini didasari, Cianjur memiliki kekayaan sejarah, tokoh,  dan tradisi kesundaan cukup banyak dalam memperkokoh budaya Sunda seperti: maos, mamaos Cianjuran, maenpo, dan lain-lain. Cianjur pun dipandang  barometer tradisi, bahasa dan kehidupan masyarakat Sunda  relatif terjaga.

Suasana diskusi begitu cair dan terbangun komunikasi dua arah.  Narasumber menggunakan bahasa Inggris diselingi bahasa Indonesia dan sesekali menyelipkan kalimat bahasa Sunda.  Sesi ini ditutup dengan sesi tanya-jawab.  Dalam dua termin, ada 8 pertanyaan dilontarkan berkaitan dengan materi ini.

Mrs. Frances B. Affandy lahir di Louisiana, AS, 25 Januari 1945. Ia menemukan jodoh dengan warga Indonesia pada saat tugas di sana. Sebelumnya, ia mengikuti tugas suami berpindah dari negara ke negara lain, seperti:  AS,  Australia, Cina, Singapura, dsb.  Saat suaminya bertugas di Indonesia, ia menyukai dan memilih menetap di kota kembang ini sejak tahun 1982 atau sekarang hampir 30 tahun. Lulusan Cultural Anthropology ini pernah mendapat sejumlah penghargaan, diantaranya Heritage Award IAI tahun 1994;  Heritage Award PATA tahun 1995, dan lain-lain. Selain aktif sebagai pengajar di ITB, narasumber tercatat sebagai Direktur Eksekutif Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Heritage) dan  Ketua Komite Nasional Indonesia untuk International Council on Monuments and Sites (ICOMOS) berpusat di Paris.

Tuturan tentang penca dalam tradisi lisan sunda

Pada sesi kedua, materi seminar disampaikan oleh Prof. Dr. H. Yus Rusyana (Guru Besar UPI Bandung). Mengawali penyampaian materinya, Prof. Yus memberi komentar  berkaitan acara sebelumnya,

"Tadi sudah dilaksanakan ngaos (maos), mamaos (Cianjuran) sekarang giliran Maenpo," ujar Prof. Yus  kepada peserta seminar dan diaplaus peserta.

Maos, Mamaos, Maenpo merupakan moto kabupaten Cianjur sehingga memiliki konteks yang sesuai dengan seminar ini.  Prof. Yus mengatakan bahwa tradisi lisan umumnya berlangsung lama sehingga sulit dilacak bagaimana asal-usulnya. Di kalangan penca (pencak silat) hidup tuturan erat kaitannya dengan tokoh penca, peristiwa, dan aliran penca-nya.

Guru penca yang berhasil direkam adalah aliran penca Cikalong (dari Cianjur), Makao (Pandeglang) dan Sahbandar (Pandeglang). Di tatar Sunda ada aliran lain, yaitu Cimande dan Timbangan, namun dalam penelitian tsb tidak sempat diteliti tuturannya. Untuk  makalah tersebut hanya dibatasi tentang tuturan penca Cikalong sesuai dengan konteks Cianjur.

Hasil transkripsi tuturan dalam penelitian itu dibacakan dalam dialog oleh dua peserta seminar, yaitu  Drs. Aan Suwandi dan Ely Hadijah, S.Pd. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi berikutnya. Penutur dalam materi tsb adalah Rd. Memed Bin Rd. Obing Ibrahim, lahir di Cianjur 1919. Pada saat bertutur (1994) usianya mencapai 75 tahun.  Cikalong adalah nama sebuah tempat di Cianjur yang dipergunakan untuk penamaan aliran yang lahir di tempat itu.  Rd Haji Ibrahim (Raden Djajaperbata) adalah keturunan dari Dalem Aria Cikalong. Istilah untuk menyebut kemahiran penca ialah penca, maenpo dan ameng. Aliran ini disebut penca Cikalong.

Dalam penca banyak memiliki muatan karakter yang berguna bagi generasi muda.  Nilai-nilai dalam penca adalah memahami dengan cerdas; berbuat dengan giat; membentuk watak sopan, tidak sombong dan saling menghargai; bergaul rukun dan sejahtera.  Nilai-nilai itu relevan dengan 18 nilai karakter yang dibuat oleh Depdiknas  dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.   Adapun 18 nilai dalam pendidikan karakter bangsa tersebut adalah Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi, Bersahabat/Komunikatif,  Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, dan Tanggung Jawab.

 

Prof. Yus cukup piawai memberikan gambaran kisah berkaitan materi penca. Beliau mengisahkan dengan penuh penghayatan.  Salah satu contohnya,  kisah anak belajar ikut belajar di pasantren, padahal tujuan utamanya hanya ingin belajar ilmu penca yang diajarkan sang kyai  di pasantren.  Namun tak kunjung sang kyai mengajarinya. Karena kegemarannya membuat liwet, sang anak hanya disuruhnya meniup songsong agar api tetap menyala dengan gerakan tertentu. Hal itu dilakukan berulangkali dan tampak membosankan anak. Sang anak pun memutuskan pulang dan di tengah jalan dicegat perampok. Ternyata gerakan refleks-nya merupakan sebuah jurus maut mampu melumpuhkan para perampok. Akhirnya direnungkannya bahwa sesungguhnya ia telah diajari elmu penca oleh gurunya secara tidak langsung. Akhirnya hatinya luluh dan memutuskan kembali ke pesantren.

Prof. Yus juga menyisipkan nilai-nilai perlunya hidup dilandasi iman untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan diakhirat. Beliau memberikan ilustrasi disaat bepergian Bandung-Cengkareng, tiba-tiba sopirnya mengambil arah kiri, kemudian ditanya, mengapa anda memilih jalan ke kiri? "Saya iman (percaya) pada petunjuk," kata sopir.  Begitupula saat melewati turunan, sopir menurunkan kecepatannya hanya 40 km/jam. Saat ditanya, ia menjawab sesuai dengan rambu tertera. Mengapa anda begitu yakin? Kalau tidak mematuhi, mobil ini akan terjungkal. Dalam perjalanan Bandung-Cengkareng relatif pendek, sopir sangat percaya dan patuh pada rambu membimbing para pengendara hingga selamat sampai tujuan. Apalagi mengarungi perjalanan menuju akhirat, sebagai kehidupan hakiki, tentu harus lebih iman (percaya) pada rambu-rambu diberikan sang Pencipta, karena lebih banyak godaan, hambatan dan kendalanya selama perjalanan amat panjang tsb.

Prof. Yus menjelaskan pula bahwa dalam memberikan inovasi jangan meninggalkan tradisi.  Ilustrasi sederhananya, tradisi menanak nasi di kalangan masyarakat Sunda. Dulu menggunakan seeng (dandang), langseng, ada beberapa proses: " sapertos dikarih, diakeul, ngarah sanguna pulen..." ungkapnya dalam bahasa Sunda.  Tetapi sekarang lebih banyak digunakan majic com yang mengabaikan proses "ngarih" "ngakeul", sehingga nasinya cepet "bear" dan "beueuy" dan di lidah "urang" Sunda kurang pas, karena tidak pulen.   Bila ahli teknologi menciptakan alat ini hendaknya jangan lupa memadukan tradisi, sehingga kualitas produk dihasilkan nyaris serupa.

Saat ditanya Iim Sobandi, S.Pd tentang bagaimana apakah budaya buruk dianggap umum oleh khalayak bisa diubah? Prof. Yus menjawabnya dengan filosofi yang dianutnya, yakni selamat, manfaat dan nikmat dunia dan akhirat.  Filosofi ini menjangkau jauh melebihi 5 benua yang ada di muka bumi ini. Pendeknya, segala tindakan perbuatan dapat dilihat dalam filosofis tersebut.  Bila kita mengerjakan hal buruk, seperti; korupsi, meskipun secara duniawi dapat memperkaya diri, tetapi membawa mudarat, dan sengsara di kemudian hari, maka segera tinggalkan. Meskipun sabu menyenangkan sesaat, tetapi membawa mudarat, maka tinggalkanlah. Mengubah melalui diri sendiri, lingkungan terdekat hingga umum adalah tahapan yang niscaya untuk beroleh kebaikan.

Narasumber mendapat cinderamata dari Direktur Pascasarjana UNSUR Cianjur [pubdok]

Masyarakat harus pula memiliki kemandirian dalam menjaga budaya lokal, jangan didikte oleh budaya asing.  Tradisi seni penca di acara khitanan anak yang biasa ditampilkan kini  sudah mulai hilang digantikan organ tunggal atau hiburan lainnya. Begitupula wayang golek.  Sebagai orang berjiwa mandiri dan mencintai budaya lokal,  bisa mulai dari peserta sendiri untuk menampilkan kesenian dari budaya lokal. Jangan takut!

Acara ini berakhir pukul 15.15. Sebenarnya masih banyak peserta yang bersiap mengajukan pertanyaan. Namun, mengingat waktu telah melewati jadwal ditentukan, moderator Banan Sarkosih, S.Pd., M.Pd mengakhiri sesi ini.  Laporan korespondensi website PBSI S2 hanya penggalan jalannya acara saja. Semoga seminar yang telah dilakukan dapat ditindaklanjuti dalam "nanjeurkeun ajen" budaya Sunda dalam menghadapi gempuran budaya asing.  Hasil seminar ini mudah-mudahan dalam waktu dekat   didokumentasikan  dalam bentuk  prosiding. ****[dadan wahyudin/tim publikasi semiloka IV/2012)

 

Baca Artikel terkait:

285 Peserta Ikut Seminar Internasional IV di UNSUR Cianjur