Prof. Dr. Iskandarwassid Raih Anugrah Budaya Kota Bandung 2012

PDFCetakEmail

Profil - Prestasi

Prof. Dr. Iskandarwassid (Direktur Pascasarjana UNSUR Cianjur, kedua kiri) dan Frances B. Affandy (ketiga kiri) saat di ruang dosen Pascasarjana UNSUR sebelum Seminar Internasional IV Oktober lalu. Keduanya memperoleh Anugrah Budaya Kota Bandung 2012 dari Walikota Bandung, H. Dada Rosada di Hotel Savoy Homann. Jum'at (30/11) lalu. (Foto ilustrasi admin)

BANDUNG, (PRLM).- Dua belas seniman menerima Anugerah Budaya Kota Bandung 2012 dari Wali Kota Bandung, H. Dada Rosada. Kedua belas seniman itu adalah Atang Warsita (Bidang Karawitan), Bambang Sugiharto. Bid (Pemikiran Kebudayaan), Dewi Gita (Musik), Eka Gandara (Film), Frances B Affandi (Sejarah/Heritage), Her Suganda (Media/Jurnalistik), Iskandarwassid (Sastra), Moh. Aim Salim (Tari), Paguron Panglipur (Penca), Yati Sugiyati (Teater), Wa Kepoh (Penyebaran Sastra Lisan), dan Yus Rusamsi (Seni Rupa).

Selain Anugerah Budaya, diserahkan juga hadiah Pasanggiri Logo Padepokan Seni Kota Bandung kepada tiga pemenang. Ketiga pemenang tersebut adalah Sarjono untuk nama "Mayang Sunda", Ridwan Suranto, SSn ("Simbar Kancana"), dan Mochamad Akbar Hasyim Rifai untuk nama "Bandung Hurung"

Wali Kota Dada Rosada mengatakan, entah apa kalau dunia tanpa seni dan budaya. Mungkin hanya orang "sakit" atau "gila" yang tidak punya seni budaya. Untuk itu, pemkot memelihara seni budaya ini dengan cara membuat sentra seni budaya kreatif berwawasan lingkungan di kawasan Bandung Timur. Tahun ini DED nya akan segera ditandatangani.

Hal ini dilakukan pemkot karena terinspirasi kota Shenzen. Di mana seni budaya dapat mendatangkan wisatawan. Lagi pula, pertunjukkan seni budaya yang disuguhkan di Bali dan Yogya ternyata dibawa dari Bandung. "Kenapa kita bisa memasok seni budaya ke Yogya dan Bali sedangkan di kita sendiri tidak punya sentra seni budayanya," demikian ungkap wali kota.


WALIKOTA Bandung, Dada Rosada (kiri) memberikan penghargaan Anugerah Budaya Kota Bandung 2012 kepada Seniman Penyebaran Sastra Lisan, Wa Kepoh di Hotel Savoy Homan, Jln. Asia Afrika, Kota Bandung, Jumat (30/11) malam. Dua belas seniman menerima Anugerah Budaya Kota Bandung 2012 (Foto Sumber : ARMIN ABDUL JABBAR/"PRLM")

Ihwal jumlah uang yang diberikan kepada seniman, Dada mengaku kecewa, karena semula direncanakan akan diberikan sebesar Rp 12.500.000,- kepada masing-masing penerima. Namun realisasinya hanya Rp 10 juta.

"Ini jelas tidak kreatif. Padahal kita dalam setiap gerak mencanangkan Bandung kreatif. Kalau hadiah seharusnya lebih besar malah jadi kecil, sangat tidak kreatif," ujar Dada.

Kepada para penerima anugerah budaya diberikan haidah piagam dan uang masing-masing Rp 10 juta. Sedangkan kepada pemenang pasanggiiri diberikan Rp 15 juta untuk juara I, juara II Rp 10 juta, dan juara III Rp 5 juta.

Kadisbudpar Kota Bandung Drs. Heri Jauhari, MM, Kadisbudpar Kota Bandung mengatakan, Anugerah Budaya diberikan setiap tahun sejak 2006. Anugerah Budaya Kota Bandung berupa apreasi pemerintah kota Bandung terhadap para tokoh yang menghidupkan budaya di kota Bandung. Para tokoh dan seniman ini, tidak hanya seniman yang tinggal di kota Bandung tetapi juga di luar kota Bandung yang karyanya menyebar ke nasional dan internasional.

"Kota Bandung tidak akan kekurangan kreator yang terus mengalir dari tahun ke tahun. Anugerah ini semoga menjadi pemacu seniman dan berkarya," demikian Kadisbudpar.

Prof. Dr. Iskandarwassid, wakil penerima Anugerah Budaya 2012 Bidang Sastra mengatakan, anugerah seperti ini harus menjadi contoh pemerintah daerah lain dan menjadi pendorong untuk kreativitas dalam mengokohkan kebudayaan.

Sedangkan Yati Sugiati (bidang teater), mengaku tidak pernah berpikir akan mendapat penghargaan dalam kiprahnya di bidang teater. "Saya bekerja mengalir saja karena kecintaan pada teater. Tetapi ternyata yang memberi penghargaan," ujarnya.

Yati Sugiyati bermain teater sejak tahun 1950 bersama kelompok Teater Perintis bersama Jim Adhilimas. (A-148/A-88)**

Sumber dikutip dari artikel aslinya berjudul : Dunia Tanpa Seniman itu "Gila" [situs: pikiran-rakyat.com)